Penerapan Filsafat dalam Pendidikan dan Pembelajaran Matematika
Penerapan
Filsafat dan Ideologi dalam Pendidikan dan Pembelajaran
Matematika di Sekolah
(Oleh: Herlina Sari Br Sitepu)
Pendahuluan
Pada
dasarnya pengertian pendidikan ( UU SISDIKNAS
No.20 tahun 2003 ) adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Menurut kamus Bahasa Indonesia Kata
pendidikan berasal dari kata ‘didik’ dan mendapat imbuhan ‘pe’ dan akhiran
‘an’, maka kata ini mempunyai arti proses atau cara atau perbuatan mendidik.
Secara bahasa definisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku
seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusiamelalui upaya
pengajaran dan pelatihan.
Menurut Ki Hajar Dewantara
(Bapak Pendidikan Nasional Indonesia) menjelaskan tentang pengertian
pendidikan yaitu: Pendidikan yaitu tuntutan di dalam hidup tumbuhnya
anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat
yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota
masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Pendidikan adalah
usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan,
pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
Menurut UU No. 20 tahun
2003 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan,
pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
Sedangkan pengertian
pendidikan menurut H. Horne, adalah proses yang terus menerus
(abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah
berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada vtuhan, seperti
termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari
manusia. Dari beberapa pengertian pendidikan menurut ahli tersebut
maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan adalah Bimbingan atau pertolongan yang
diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai
kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya
sendiri tidak dengan bantuan orang lain.
1.
Pembelajaran Matematika di Sekolah
Belajar
dan Pembelajaran matematika bertujuan agar memiliki kemampuan untuk mengenal
model-model desain pembelajaran matematika, konsep-konsep matematika yang
berkaitan dengan realita kehidupan di masyarakat dan lingkungan, memiliki
keterampilan dasar berpikir logis, kreatif dan kritis dalam memahami masalah,
mengomunikasikan masalah, memberikan penalaran terhadap masalah, mengkoneksikan
masalah, terampil memecahkan permasalahan[1].
Ruang lingkupnya Meliputi: hakikat dan karakteristik
matematika, teori-teori pembelajaran matematika, idiologi-idiologi pendidikan
matematika, perubahan paradigma mengajar ke pembelajaran matematika, sistem
belajar dan pembelajaran matematika, pembelajaran tematik, proses
belajar-mengajar matematika yang efektif, meningkatkan aktifitas belajar
matematika, pembelajaran matematika berlandaskan konstruktivistik, pembelajaran
membaca matematika, pembelajaran matematika abad globalisasi, problem solving,
pengelolaan kelas, pembelajaran dengan pendekatan scientific, penilaian
autentik, kurikulum tematik integratif.
Aplikasi pembelajaran mata kuliah ini berlandaskan
pembelajaran bermakna (meaningful), sesuai pendapat (Sumarmo 2010) bahwa empat
pilar Pendidikan Universal (UNESCO).
(1)
Proses learning to know.
Siswa belajar untuk mengetahui/memahami
secara bermakna fakta, konsep, prinsip, hukum, teori, model dan ide matematika,
hubungan antar ide tersebut dan alasan yang mendasarinya, serta menggunakan ide
untuk menjelaskan dan memprediksi proses matematika.
(2)
Proses learning to do.
Siswa belajar melakukan, didorong
melaksanakan proses matematika doing math secara aktif untuk memacu peningkatan
perkembangan intelektualnya. Pandangan yang mendukung penerapan “learning to
do” adalah pembelajaran matematika yang berorientasi pada pendekatan
konstruktivisme. Siswa membentuk pengetahuannya melalui interaksi dengan
lingkungan dalam proses asimilasi dan akomodasi. Proses asimilasi yaitu proses
pengintegrasian secara langsung stimulus kedalam skemata yang telah terbentuk,
sehingga menghasilkan pertumbuhan skemata secara kuantitas. Sedangkan akomodasi
adalah proses pengintegrasian stimulus baru ke dalam skema yang telah terbentuk
secara tidak langsung, sehingga menghasilkan perubahan skemata secara kualitas.
Contoh, seorang anak menyebut cecak besar pada buaya. Dasarnya ia mengasimilasi
stimulus buaya ke dalam skema cecak.
(3) Proses learning to be.
Siswa belajar menjiwai, menghargai atau
mempunyai apresiasi terhadap nilai-nilai dan keindahan akan proses dan produk
matematika, yang ditunjukkan dengan sikap senang belajar, bekerja keras, ulet,
sabar, disiplin, jujur, serta mempunyai motif berprestasi yang tinggi, dan rasa
percaya diri. Aspekaspek afektif di atas, mendukung usaha siswa untuk
meningkatkan kecerdasan dan mengembangkan keterampilan intelektual dirinya
secara berkelanjutan.
(3)
Proses learning to live together in peace and harmony.
Siswa belajar bagaimana seharusnya belajar
learning to learn, serta belajar bersosialisasi dan berkomunikasi dalam
matematika, melalui bekerja/belajar bersama dalam kelompok kecil, secara
klasikal, saling menghargai pendapat orang lain, menerima pendapat yang
berbeda, belajar mengemukakan pendapat dan bersedia “sharing ideas” dengan
sesama teman dalam kegiatan matematika. Dengan pola belajar seperti di atas
akan terjadi komunikasi multi arah. Mahasiswa bisa mengaitkan konsep yang
dipelajari dengan konsep yang telah dimiliki berdasarkan pengalaman sehingga
diharapkan situasi kelas yang kondusif, mahasiswa terlibat aktif fisik, mental,
kognitif, afektif serta psikomotoriknya relevan dengan proses berfikir yang
komprehensif. Perubahan pandangan dalam pembelajaran matematika untuk mendukung
berlangsungnya ke-empat pilar di atas (Sumarmo 2010) berpendapat:
(a) Dari pandangan kelas sebagai kumpulan
individu ke arah kelas sebagai komuniti (masyarakat belajar).
(b) Dari pandangan pencapaian jawaban yang
benar saja kearah logika dan peristiwa matematika sebagai verivikasi.
(c)
Dari pandangan guru sebagai pengajar (instruktur) ke arah pendidik, motivator,
fasilitator, dan manajer belajar.
(d) Dari penekanan pada mengingat prosedur
penyelesaian kearah pemahaman, problem solving, komunikasi, koneksi dan
penalaran matematika melalui reinvention.
(e)
Dari penekanan pada menemukan jawaban secara mekanistik ke arah menyusun
konjengtur, menemukan, dan pemecahan masalah.
(f)
Dari memandang dan memperlakukan matematika sebagai “kumpulan konsep dan
prosedur yang terisolasi, ke arah hubungan antar konsep, idea matematika dan
aplikasinya”.
Filsafat
merupakan ilmu yang sudah sangat tua. Hal yang
membicarakan filsafat maka pandangan
akan tertuju jauh ke masa lampau di zaman Yunani Kuno. Pada masa itu
semua ilmu dinamakan filsafat. Dari Yunanilah kata “filsafat” ini berasal,
yaitu dari kata philos dan sophia. Philos artinya cinta yang sangat mendalam,
dan sophia artinya kebijakan atau kearifan. Istilah filsafat sering
dipergunakan secara populer dalam kehidupan sehari-hari, baik secara sadar
maupun tidak sadar. Dalam penggunaan populer, filsafat dapat diartikan sebagai
suatu pendirian hidup (individu) dan dapat juga disebut sebagai pandangan
masyarakat.
Filsafat
bersifat sistematis artinya pernyataan-pernyataan atau kajian-kajiannya
menunjukkan adanya hubungan satu sama lain, saling berkait dan bersifat koheren
(runtut). Di dalam tradisi filsafat ada paham-paham atau aliran besar yang
menjadi titik tolak dan inti pandangan terhadap berbagai pertanyaan filsafat.
Misal: aliran empirisme berpandangan bahwa hakikat pengetahuan adalah
pengalaman. Tanpa pengalaman, maka tidak akan ada pengetahuan. Pengalaman
diperoleh karena ada indera manusia yang menangkap objek-objek di sekelilingnya
(sensasi indera) yang kemudian menjadi persepsi dan diolah oleh akal sehingga
menjadi pengetahuan. Maka filsafat melahirkan pandangan para filsuf dan
menghasilkan aliran-aliran yang terbentuk menjadi sebuah ideologi yang
digunakan dari setiap Negara dan berbeda.
2.
Penerapan Filsafat dalam
Pembelajaran Matematika
Ada tiga hal yang dianggap
penting tentang filsafat
dan pendidikan. Hal ini digambarkan dalam bentuk sebuah
perbandingan pemikiran sudut pandang filsafat absolutis dan fallibilis.
1.
Ada perbedaan antara pengetahuan
sebagai produk akhir yang sebagian besar diwujudkan dalam bentuk dalil-dalil dengan kegiatan memahami atau
kegiatan mencari pengetahuan. Yang berhubungan dengan asal-usul pengetahuan dan keterlibatan manusia
dalam penciptaannya.
Pandangan absolutis terfokus pada yang pertama yaitu produk akhir yang
sudah selesai dan dasar-dasar kebenarannya. Pandangan filsafat absolutis
tidak hanya terfokus
pada pengetahuan sebagai
produk objektif, mereka sering menolak
keabsahan filsafats terkait
dengan asal usul pengetahuan dan lebih suka memasukan wilayah itu
kedalam wilayah ilmu psikologi dan
ilmu social. Kecuali aliran konstruktifisme yang mengakui elemen mencoba mencari
tahu dalam bentuk yang telah ada.
Pandangan fallibilis terkait dengan hakikat matematika, dengan mencari
tahu atau memahami kesalahan dalam
matematika, itu semua tidak dapat terlepas dari pemikiran untuk menggantikan teori dan mengembangkan
pengetahuan. Pada intinya pandangan seperti ini sangat berhubungan dengan konteks penciptaan pengetahuan dan asal-usul
sejarah matematika, pandangan ini bisa dikatakan mampu memberikan gambaran dan penjelasan yang baik
tentang matematika secara
utuh.
2. Ada perbedaan
antara matematika sebagai
pengetahuan yang berdiri
sendiri dengan matematika sebagai sesuatu
yang berhubungan dan menjadi
bagian yang tidak dapat dipisahkan
dari jaringan ilmu pengetahuan lainnya. Absolutis matematika menyebutnya bahwa matematika adalah satu-satunya ilmu pengetahuan yang didasarkan pada pembuktian-pembuktian yang kuat. (artinya
matematika dapat berdiri
sendiri tanpa pengaruh
ilmu lain, sementara ilmu lain
tidak terlepas dari
keterkaitanmatematika)
Kondisi ini disertai dengan penolakan pandangan internalis terkait
dengan relefansi sejarah atau asal-usul atau konteks manusia,
yang semakin menguatkan batas bahwa matematika adalah diisplin yang terpisah
dan berdiri seendiri. Fallibilis memasukan lebih banyak hal didalam
wilayah filsafat matematika. Karena matematika dipandang
tidak absolute, maka matematika tidak dapat secara sah dipisahkan
dari ilmu pengetahuan empiris, pengetahuan fisik dan ilmu lainnya. Karena aliran
fallibilism masuk kedalam wilayah asal usul
(terciptanya) pengetahuan matematika dan juga produknya, maka matematika
dipandang sebagai bagian yang menyatu dengan sejarah dan kehidupan
manusia.
3.
Perbedaan ini memisahkan pandangan
matematika sebagai ilmu yang objektif dan bebas nilai karena hanya terfokus pada logika internalnya sendiri, dengan memandang
matematika sebagai bagian yang menyatu dengan budaya manusia dan oleh
karena itu dipengaruhi oleh nilai-nilai manusia
seperti halnya wilayah
dan pengetahuan lainnya.
Pandangan filsafat absolutis
dengan fokus internalnya, memandang matematika sebagai
ilmu yang objektif
dan terlepas dari moral dan nila-inilai manusia.
Pandangan fallibilisme sebaliknya menghubungkan matematika dengan ilmu pengetahuan lainnya berlandaskan
pada sejarah dan asal-usul sosialnya. Oleh Karena itu falliblisme memandang matematika memiliki nilai-nilai lainnya
seperti nilai moral dan sosial yang memiliki peran penting dalam
pengembangan dan penerapan matematika.
Apa yang disajikan
disini adalah bahwa wilayah filsafat
matematika seharusnya mencakup persoalan-persoalan eksternal
dengan dasar sejarah dan konteks sosial matematika selain fokus pada persoalan
internal terkait dengan
pengetahuan, eksistensi dan kebenaran.
Kriteria filsafat
matematika seharusnya menguraikan:
1) Pengetahuan matematika: hakikat,
nilai kebenaran dan asal usul.
2) Objek matematika: hakikat
dan keaslian.
3) Penerapan matematika: keefektifannya terhadap sains, teknologi dan wilayah lain.
4) Praktek matematika:
aktifitas ahli matematika baik di waktu sekarang atau di waktu lampau.
Kriteria ini seharusnya digunakan untuk filsafat
matematika manapun.
Pengujian Lebih Jauh Tentang Aliran-Aliran Filsafat
A.
Aliran Absolutis
Dalam bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa aliran logis, formalis dan
intusionis adalah pengikut
dari aliran absolutis. Kegagalan pemikiran aliran telah membuktikan ketaktepatan aliran
absolutis untuk filsafat matematika. Berdasarkan pada kriteria diatas, dapat disimpulkan bahwa aliran ini tidak sesuaian sebagai
filsafat matematika.
B. Aliran Absolutis Progresif
Meskipun berbagai macam absolutisme telah dikelompokan dan menjadi
objek kritik bersama, ada
bentuk-bentuk absolutisme yang berbeda dalam matematika. Menyamakannya dengan filsafat sains, Confrey (1981)
memisahkan absolute formal dengan absolute progresif dalam filsafat
matematika.
Absolutis progresif yang lebih memandang (dari sudut padang aliran
absolutis) matematika sebagai akibat
dari upaya manusia untuk mencari
kebenaran dari pada hasilnya. Filsafat absolut progresif:
1.
Menerima penciptaan dan perubahan
teori-teori aksiomatis (yang kebenarannya hampir
dianggap mutlak).
2.
Mengakui bahwa keberadaan matematika formal karena intuisi
matematika diperlukan sebagai
dasar dari penciptaan teori
3. Mengakui aktifitas
manusia dan akibatnya
dalam penciptaan pengetahuan dan teori-teori baru.
Intusionisme dan filsafat
absolutis progresif secara umum memenuhi
kriteria dibandingkan dengan
filsafat absolut formal, meskipun secara keseluruhan tetap memberikan penentangan karena aliran ini memberikan ruang, meskipun terbatas,
untuk para ahli matematika
yang beraktivitas (Kriteria 4). Mereka memandang elemen manusia, meskipun dalam bentuknya yang unik, memiliki
tempat dalam matematika informal. Harus diakui
bahwa aliran ini memenuhi
sebagian kriteria.
C. Platonisme
Platonisme adalah pandangan bahwa objek matematika memiliki eksistensi
objektif yang nyata dalam beberapa
wilayah ideal. Pandangan ini berasal dari Plato dan dapat dilihat dalam tulisan penganut aliran Logis
seperti Frege dan Rusell, dan juga Cantor, Bernays (1934), Hardy (1967) dan Godel (1964). Penganut aliran Platonis
berpendapat bahwa objek dan struktur
matematika memiliki eksistensi nyata yang terpisah dari kemanusiaan dan oleh karena itu matematika adalah proses untuk menemukan hubungan
yang ada dibaliknya. Menurut penganut aliran Platonis pengetahuan matematika
terdiri dari penjelasan objek-objek dan hubungan dengan struktur yang menghubungkan mereka.
Platonisme dengan jelas memberikan pemecahan
terhadap persoalan objektifitas matematika. Platonisme mencakup baik kebenarannya dan eksistensi
objeknya sebagaimana juga kemandirian
matematika yang memiliki hukum dan logika sendiri.Yang lebih menarik disini adalah adanya fakta bahwa filsafat
yang tampaknya tidak masuk akal ini berhasil
menciptakan ahli matematika seperti Cantor dan Godel.
Disamping hal yang menarik seperti
itu, platonisme memiliki
dua kelemahan penting.
1. Aliran
ini tidak mampu menawarkan penjelasan yang tepat terkait dengan bagaimana ahli matematika memperoleh akses kedalam
pengetahuan yang ada dalam
wilayah platonic.
2. Aliran
ini tidak mampu memberikan deskripsi yang tepat untuk matematika baik secara internal
atau eksternal. Karena aliran ini tidak dapat memenuhi persyaratan diatas, platonisme ditolak sebagai filsafat matematika.
D.
Konvensionalisme
Pandangan pengikut aliran konvensionalis menyebutkan bahwa pengetahuan matematika dan kebenaran didasarkan pada konvensi (kesepakatan) linguistik. Atau kebenaran logika dan matematika memiliki sifat analitis, benar karena ada hubungan nilai dari
makna istilah yang digunakan. Bentuk moderat dari konvensionalisme seperti
Quine (1936) atau Hempel (1945)
menggunakan konvensi linguistic
sebagai sumber kebenaran
matematika dasar yang menjadi landasan
konstruksi bangunan matematika. Bentuk konvensionalisme
ini sedikit banyak sama dengan “ifthenisme” yang dijelaskan di Bab 1 sebagai posisi mempertahankan diri aliran
pondasionis yang sudah kalah. Pandangan ini tetap saja absolutis dan
tetap dapat dikenakan penolakan yang sama.
Filasafat matematika konvensionalis telah dikritik oleh penulis
sebelumnya dengan dua alasan. Pertama, dikatakan disini bahwa aliran
ini tidak banyak memberikan informasi. Terlepas dari penjelasan tentang
sifat social matematika, konvensionalisme hanya memberikan sedikit informasi.
Kedua, penolakan dari Quine. Penolakan Quine tidak memiliki alasan kuat karena
penolakan itu tidak dapat dikenakan
pada bahasa asli dan dikenakan pada peran pembatas pada konvensi umum. Sebaliknya dia benar dengan
mengatakan bahwa kita tidak akan menemukan semua kebenaran matematika dan logika yang dikemukakan secara literal seperti
aturan dan konvensi linguistik. Meskipun Quine
mengkritik konvensionalisme terkait dengan logika, dia memandang aliran ini memiliki potensi
menjadi filsafat matematika yang sedikit berbeda[2].
E. Empirisme
Pandangan empiris tentang
pengetahuan matematika menyebutkan bahwa kebenaran matematika adalah generalisasi empiric
(pengamatan). Kami membedakan dua tesis empiris:
(i)
Konsep matematika memiliki
asal usul empirik dan
kebenaran
matematika memiliki dasar kebenaran empirik maka diambil dari dunia nyata. Tesis pertama tidak dapat
disangkal dan telah diterima oleh sebagian besar filsuf matematika (sehingga banyak konsep tidak terbentuk secara
langsung dari pengamatan tetapi terdefinisi karena adanya konsep lain yang menyebabkan terbentuknya konsep dari pengamatan
melalui serangkaian definisi). Tesis yang kedua
ditolak oleh semua pihak kecuali penganut aliran empiris karena arahnya yang mengarah ke ketidakjelasan. Penolakan pertama beralasan bahwa sebagian
besar ilmu matematika diterima dengan dasar alasan teoritis dan bukan empiris. Oleh karena itu saya tahu bahwa 999.999
+ 1 = 1.000.000 tidak melalui pengamatan kebenarannya di dunia tetapi melalui
pengetahuan teoritis saya tentang angka dan
penjumlahan.
Empirisme terbuka untuk sejumlah kritik.
Pertama, ketika pengalaman kita berlawanan dengan
kebenaran matematika dasar, kita tidak akan menyangkalnya (Davis dan Hersh,
1980). Kita justru akan berasumsi bahwa mungkin ada kesalahan dalam
penalaran kita karena ada
kesepakatan bersama tentang matematika sehingga kita tidak dapat menolak
kebenaran matematika (Wittgenstein,
1978). Oleh karena itu, “1 + 1 = 3” sangat jelas salah, bukan karena jika seekor kelinci ditambahkan ke
kelinci lainnya tidak dapat berjumlah tiga kelinci tetapi dengan definisi
“1 + 1” artinya “pengganti dari 1” dan “2” adalah pengganti dari “1”.
Kedua,matematika sangat abstrak dan begitu banyak konsepnya tidak memiliki keaslian
dalam pengamatan di dunia nyata. Justru konsep tersebut didasarkan pada
konsep yang sudah terbentuk
sebelumnya. Kebenaran- kebenaran tentang konsep seperti itu yang membentuk bangunan matematika tidak dapat dikatakan
berasal dari kesimpulan dari observasi dunia luar. Ketiga,
empirisme bisa dikritik karena terfokus secara eksklusif (khusus) pada masalah- masalah pondasionis dan gagal
menguraikan kecukupan tentang pengetahuan matematika. Dengan dasar kritik ini kami menolak pandangan empirik sebagai
filsafat matematika yang tepat[3].
Empirisme Kuasi
Empirisme kuasi adalah nama yang diberikan kepada filsafat matematika yang dikembangkan oleh
Imre Lakatos (1976, 1978). Aliran ini memandang matematika sebagai apa yang ahli matematika lakukan dan
dengan semua kekurangan yang melekat pada aktifitas atau ciptaan manusia. Empirisme kuasi menampilkan “arah baru
dalam filsafat matematika” (Tymoczko,
1986), karena penekanannya pada praktek matematika. Para pendukung dari pandangan ini adalah Davis (1975), Hallett
(1979), Hersh (1979), Tymoczko (1979) dan Putnam
(1975). Berikut ini adalah sketsa awal dari pemikiran empirisme kuasi.
Matematika adalah sebuah dialog diantara
orang-orang yang mencoba
menyelesaikan persoalan matematika. Ahli matematika tidak bisa
lepas dari kesalahan dan produk mereka termasuk konsep dan pembuktian tidak dapat dianggap
produk akhir atau sempurna tetapi masih membutuhkan negosiasi kembali sebagai
standar perubahan yang harus dilakukan dengan
teliti atau sebagai
tantangan baru atau makna yang muncul. Sebagai
aktifitas manusia, matematika tidak dapat dipandang
sebagai sesuatu yang terpisah dari sejarah dan aplikasinya
kedalam sains dan ilmu lainnya.
Empirisme kuasi menampilkan “kembangkitan kembali empirisme dalam filsafat matematika
terkini” (Lakatos, 1967)[4].
Lima tesis
dari empirisme kuasi
dapat diidentifikasi sebagai
berikut:
1. Pengetahuan matematika dapat keliru
2. Matematika Bersifat
Hipotetis-deduktif
3. Sejarah adalah
pusat Penegasan Pentingnya Matematika Informal
4. Dimasukkannya Teori Penciptaan Pengetahuan
Ada pola sederhana
untuk penemuan matematika atau pertumbuhan teori
matematika informal. Pola tersebut terdiri dari tahap-tahap
berikut:
1. Dugaaan awal.
2. Pembuktian (eksperimen atau argument, perubahan
dari dugaan awal menjadi sub-dugaan atau lemma).
3. Kontra contoh
“global” (kontra contoh
untuk dugaan sederhana)
4. Bukti pengujian
kembali: “lemma yang salah” untuk kontra contoh global adalah kontra contoh
“local”.
Empat tahap ini adalah inti dari analisa bukti. Tetapi ada beberapa
tahap standar berikutnya
yang sering muncul:
1. Bukti pengujian teori lainnya
2. Pengecekkan hasil
yang diterima saat itu dari dugaan aslinya
dan yang sekarang
dibuktikan kesalahannya.
3. Kontra Contoh menjadi contoh baru –
wilayah baru dari penemuan terbuka.
Dapat
dilihat disini bahwa inti filsafat matematika Lakatos adalah sebuah teori asal usul pengetahuan matematika. yaitu teori
praktek matematika dan teori sejarah matematika. Lakatos tidak menawarkan teori psikologi penciptaan atau
penemuan matematika karena dia tidak menyentuh
asal-usul aksioma, definisi dan dugaan dalam pikiran orang perorang. Fokus dia adalah pada proses yang merubah
penciptaan individu menjadi pengetahuan matematikan public yang diterima
luas, terkait hal tersebut, filsafatnya sama dengan filsafat
sains falsifikasionis-nya Karl Popper, pandangan
yang Lakatos sudah ketahui. Popper (1959) mengemukakan dalil sebuah “logika penemuan
ilmiah” dimana dia berpendapat bahwa sains berkembang melalui
proses pembentukan dugaan dan pembukian
keliru. Perbedaannyaa dalah bahwa Popper focus pada rekonstruksi rasional
atau idealisasi teori dan menolak
validitas filsafat dari penerapan model sainsnya ke sejarah. Lakatos,
sebaliknya menolak memisahkan perkembangan teori filsafat pengetahuan dari
realitas sejarahnya[5].
3. Penerapan Filsafat dan Ideologi dalam Pendidikan
Filsafat
yang merupakan buah pemikiran dan landasan yang menghasilkan ideologi bagi
Negara Indonesia yaitu Ideologi yang tertuang dalam Pancasila. Pancasila yang
memiliki sumber pengetahuan dan nilai-nilai luhur sudah seharusnya dapat
diimplementasikan oleh setiap masyarakat Indonesia[6]. Akan tetapi,
persoalan secara filosofis adalah mengapa Pancasila itu sulit diterapkan di
dalam diri bangsa Indonesia? Pancasila hanya menjadi sebuah simbol dan tidak
memiliki arti serta sumbangsih dalam menyelesaikan persoalan, persoalan yang
seharusnya diselesaikan secara bersama. Berdasarkan asumsi itu, persoalan
mengenai lunturnya pemahaman bangsa Indonesia mengenai Pancasila sebagai pandangan
hidup (way of life) menjadi tugas
dari disiplin filsafat ilmu untuk mengkaji secara ilmiah dengan mengedepankan
sikap akademis dan intelektual yang tinggi, sehingga dapat diperoleh pemecahan
masalah secara komprehensif. Filsafat ilmu sebagai dasar ilmu pengetahuan harus
mampu mengembangkan Pancasila sebagai dasar-dasar ilmu pengetahuan yang
sesungguhnya mempunyai nilai-nilai luhur untuk mengatasi persoalan kehidupan
manusia dengan menggunakan aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi.
Filsafat merupakan acuan untuk
meningkatkan mutu pendidikan., disadari atau tidak, nampaknya dapat
mempengaruhi situasi dan kondisi yang memprihatinkan seperti saat ini, menumpukan seluruh harapan kepada pendidikan,
karena sadar bahwa hanya melalui pendidikan dapat memperbaiki hidup. Filsafat
Pendidikan memiliki empat fungsi, yaitu fungsi spekulatif, normatif, kritis,
dan teoritis. Fungsi spekulatif menekankan bahwa Filsafat Pendidikan berusaha
memahami berbagai persoalan pendidikan, merumuskannya dan mencarikan hubungannya
dengan faktor-faktor yang mempengaruhi pendidikan. Fungsi normatif Filsafat
Pendidikan adalah sebagai penentu arah dan pedoman pendidikan. Fungsi normatif
tersebut meliputi tujuan pendidikan apa yang akan ditentukan, manusia model apa
yang ingin dicetak dan norma-norma atau nilai-nilai apa yang hendak dibina.
Filsafat Pendidikan melakukan fungsi kritis artinya memberi dasar bagi
pengertian kristis-rasional dalam mempertimbangkan dan menafsirkan data-data
ilmiah pendidikan. Filsafat Pendidikan juga berfungsi teoretis, karena
senantiasa memberikan ide, konsepsi, analisis, dan berbagai teori bagi upaya
pelaksanaan pendidikan[7].
Sistem
Pendidikan Nasional merupakan suatu subsistem dari sistem kehidupan nasional,
yang berarti bahwa sistem pendidikan nasional merupakan subsistem dari
kehidupan berbangsa dan bernegara. Sistem pendidikan nasional bukanlah sesuatu
yang bebas nilai dan bebas budaya karena merupakan bagian dari sistem komunitas
nasional dan global. Sistem pendidikan harus selalu bersifat dinamis,
kontekstual, dan selalu terbuka kepada tuntutan relevansi di semua bidang
kehidupan. Sistem pendidikan nasional tidak perlu berisi aturan pelaksanaan
terperinci karena yang penting memunyai kejelasan konsep dasar dan nilai-nilai
budaya yang menjadi landasan di setiap pelaksanaan jenjang pendidikan. Landasan
aksiologis sistem pendidikan nasional Indonesia adalah Pancasila, karena
nilai-nilai budaya Indonesia adalah nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai Pancasila
sebagai landasan aksiologis sistem pendidikan nasional Indonesia merupakan
konsistensi landasan ontologisnya. Landasan ontologis sistem pendidikan
nasional Indonesia adalah pandangan bangsa Indonesia tentang hakikat keberadaan
manusia. Hakikat pribadi kebangsaan Indonesia terdiri atas nilai-nilai hakikat
kemanusiaan dan nilainilai tetap yang khusus sebagai ciri khas bangsa
Indonesia. Nilai-nilai hakikat kemanusiaaan menyebabkan bangsa Indonesia dan
orang Indonesia sama dengan bangsa lain dan orang bangsa lain. Nilai-nilai
ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan dapat menjadi ciri
khas bangsa-bangsa lain, tetapi kesatuan rumusannya secara lengkap sebagai
Pancasila hanya dimiliki dan menjadi ciri khas bangsa Indonesia.
Nilai-nilai
keluhuran hidup manusia yang terkandung dalam sila kedua Pancasila dirumuskan
dari pengertian hakikat manusia sehingga landasan aksiologis sistem pendidikan
nasional Indonesia merupakan implementasi landasan ontologisnya. Landasan
ontologis sistem pendidikan nasional Indonesia adalah hakikat keberadaan
manusia, yaitu sebagai makhluk majemuk tunggal atau monopluralis. Susunan
kodratnya terdiri atas unsur-unsur tubuh dan jiwa (akal-rasa-kehendak) dalam
kesatuan ketunggalan; sifat kodratnya adalah sifat makhluk perseorangan dan
makhluk sosial dalam kesatuan ketunggalan, serta kedudukan kodratnya sebagai
pribadi berdiri sendiri dan makhluk Tuhan dalam kesatuan ketunggalan.
Nilai-nilai kemanusiaan bangsa Indonesia bukan hanya nilai-nilai kebenaran,
keindahan, dan kebaikan, tetapi masih ditambah ciri khas adil dan beradab.
Kemanusiaan yang beradab tidak memisahkan kemampuan akal dari rasa dan
kehendak, tetapi menyatukannya dalam kerjasama. Kerjasama akal, rasa, dan
kehendak disebut budi atau kepercayaan-keyakinan. Budi dapat mengenal dan
memahami nilai religius sebagai kenyataan mutlak. Nilai religius meliputi
nilai-nilai keabadian dan kesempurnaan yang memunyai sifat mutlak dan tetap
atau tidak berubah.
Tujuan
pendidikan nasional tentunya tetap bercirikan rasionalitas, tetapi rasionalitas
yang berkeadaban. Berpikir rasional yang berkeadaban adalah kemampuan berpikir
rasional yang mempertimbangkan nilai-nilai kebenaran, kebaikan, keindahan, dan
religius. Perumusan tujuan pendidikan nasional supaya bersifat konseptual, maka
penting memperhatikan berbagai teori-teori pendidikan yang ada agar dapat
dilakukan perumusan yang komprehensif. Berbagai teori-teori pendidikan yang
dijadikan pertimbangan merumuskan tujuan pendidikan adalah Esensialisme, tetapi
tidak meninggalkan ranah tujuan menurut teori-teori progresivisme perenialisme,
dan rekonstruksianisme. Tujuan pendidikan berdasar teori esensialisme adalah
internalisasi nilai-nilai budaya ke jiwa anak didik. Tujuan pendidikan berdasar
teori progresivisme adalah agar anak didik mampu berbuat sesuatu dengan
pemikiran kreatif untuk mengadakan penyesuaian terus-menerussesuai dengan
tuntutan lingkungan. Tujuan pendidikan berdasar teori perenialisme adalah
pertumbuhan jiwa yang rasional agar anak didik dapat menemukan evidensi-evidensi
diri sendiri. Tujuan pendidikan berdasar teori rekonstruksianisme adalah
tumbuhnya kemampuan untuk secara konstruktif menyesuaikan diri dengan tuntutan
perubahan dan perkembangan masyarakat modern.
4. Penerapan Filsafat dan Ideologi dalam Pembelajaran Matematika
di Sekolah
Filsafat pendidikan dalam pembelajaran matematika menekankan pada perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
dalam pendidikan matematika.
Menurut pendapat (Karim, 2014) pendidikan matematika adalah kajian mengenai
sejarah matematika yang di dalamnya
mencakup sifat dasar,
psikologi, proses belajar siswa, dan
cara mengajar guru serta tujuan yang diharapkan
dari pembelajaran matematika. Secara umum terdapat beberapa
kajian yang terkait
dengan pendidikan matematika yaitu : 1) sifat dasar matematika; 2) sejarah perkembangan matematika; 3) psikologi
belajar matematika; 4) teori pembelajaran matematika; 5) pengembangan kurikulum matematika; dan 6) implementasi kurikulum matematika[8].
Secara khusus filsafat pendidikan matematika mengarah kepada filsafat
konstruktivisme. Menurut
(Burhanudin, 2013) belajar
matematika adalah proses membentuk
pengertian. Pendapat tersebut didukung oleh Bettencount (1989) yang menyatakan bahwa belajar matematika bukan hanya meniru dan melakukan
refleksi atas teori yang dipelajari tetapi juga membentuk
pengertian. Proses pembentukan pengertian ini karena adanya keaktifan
siswa dalam proses belajar matematika. Fisher dan Lipson (1986)
dalam penelitian tentang
miskonsepsi menemukan bahwa dalam belajar
matematika melibatkan peran aktif dan konstruktif. Kontruktivisme membawa pengaruh besar
tentang miskonsepsi yang ditunjukkan dengan banyaknya studi tentang miskonsepsi pada masa 1983 – 1993.
Gagasan tentang
konstruktivisme dikemukakan secara ringkas oleh von Glaserfeld dan Kitchener (1987),
yang menyatakan bahwa pengetahuan merupakan konstruksi nyata kegiatan, yang membangun skema kognitif pengetahuan yang dibentuk oleh struktur konsepsi
berdasarkan pengalaman seseorang[8]. Dalam pendidikan matematika yang terkait
dengan proses belajar individu secara konstruksi diawali dengan membangun ingatan
konsep matematika yang dipelajari, kemudian
dilanjutkan dengan mengungkapkan kembali konsep matematika dengan kata- kata sendiri hingga mampu menerapkan dan menganalisis. Tahapan
ini tentunya sesuai dengan tahap perkembangan berpikir manusia seperti yang disampaikan oleh Piaget yang menyatakan bahwa perkembangan
kognitif terdiri dari sensori motorik, pra operasional, operasional konkret, dan operasional formal. Proses konstruksi juga akan dapat berjalan secara efektif
jika didukung oleh media pembelajaran sebagai sarana dan sumber
belajar.

Komentar
Posting Komentar